SIKAP OPTIMISME DAN POSITIVE THINKING
Kamis, 24 Oktober 2013
Rabu, 23 Oktober 2013
Nama : Rani Alida Simbolon
Semester : V (Lima)
Mata Kuliah : PAK Remaja Pemuda
BERPIKIR POSITIF
Secara sederhana
manusia dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1.
Manusia yang berpikir positif
2.
Manusia yang berpikir negatif.
Golongan manusia
yang berpikir positif menghadapi hidup dengan penuh semangat; selalu ada
hal-hal baru menanti, tantangan yang harus dijawab, gunung yang harus didaki.
Disamping itu manusia optimis sungguh menikmati hidup mereka, melihatnya sebagai
kesempatan yang tidak boleh di sia-siakan. Sedangkan manusia yang bersikap
pesimis selalu ada kekurangan dan cacat cela dari segala sesuatu. Dalam
pertemuan untuk membahas masalah dan penyelesaiannya, orang-orang dari kelompok
ini lebih sering terfokus pada beratnya masalah, dan susahnya mencari dukungan.
Ringkasnya, mereka lebih cepat menyerah, bahkan sering sebelum usaha dilakukan.
Ada satu kunci
bagi manusia yang mampu memahami dan menerima kekuatan dan kelemahan dirinya,
yaitu manusia yang memiliki konsep diri ”positip”. Dengan memiliki konsep diri
positif akan lebih lapangdada dan iklas menerima berbagai kritik yang positif
maupun negatif dan kritik itu dipakai olehnya untuk membaharui diri. Ia mau
menerima berbagai kekurangan yang ada pada dirinya dan bertekad mengubahnya.
Namun manusia yang memiliki konsep diri negatif, mereka biasanya kurang senang
menerima kritik, hanya pujian. Bahkan ia berupaya sekeras mungkin untuk
menutupi berbagai kekurangan yang ada pada dirinya.
Berikut ini ada sejumlah karakteristik orang dengan konsep
diri positif seperti yang diungkapkan oleh D.E. Hamachek yaitu :
1.
Memiliki keyakinan terhadap pendapat dan
sikapnya, serta bersedia mempertahankannya, tetapi juga terbuka untuk
mengubahnya jika ternyata hal itu keliru.
2.
Mampu bertindak benar.
3.
Memiliki keyakinan dan kemampuan untuk
mengatasi masalah walaupun kenyataannya bisa saja tidak berhasil setelah
dicoba.
4.
Merasa setara dengan oranglain meski
berbeda kemampuan; tidak membanggakan diri atau menganggap diri rendah.
5.
Sanggup menerima dirinya dan merasa
berguna bagi orang lain, paling tidak bagi sahabat dan orang-orang yang dekat
dengannya.
6.
Menerima pujian secara wajar, tidak
berlebihan ataupun terlampau membanggakan apa yang sudah diraih.
7.
Cenderung menolak usaha oranglain untuk
mengontrol atau mendominasi dirinya.
8.
Sanggup mengakui pada orang lain tentang
berbagai perasaan yang ada dalam dirinya, tidak malu mengakui adanya hal-hal
yang kurang pada dirinya.
9.
Menikmati hidupnya.
10.
Peka terhadap kebutuhan oranglain.
Sebaliknya manusia yang
memiliki konsep diri negatif menurut William .D. Brooks dan Philip Emert
memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.
Peka terhadap kritik
2.
Responsif terhadap pujian (berlebihan
menanggapi pujian)
3.
Hiperkritis, mengkritik orang lain,
tetapi tidak mau di kritik
4.
Pesimis dan cenderung menghindari
kompetisi sehat.
Jika seseorang dilahirkan dengan cacat bawaan, apakah dia
harus menyesali cacatnya? Apakah dapat dibenarkan bila kecacatan itu
diungkit-ungkit orang lain? Jika kita memiliki teman yang banyak memiliki
kekurangan apakah kita menjauhinya?
Setiap manusia adalah berharga bukan karena ia lebih baik
dari manusia lainnya, melainkan karena Allah sang pencipta sendiri yang
menghargainya tidak lebih dan tidak kurang. Akan tetapi manusia sendirilah yang
membuat kriteria untuk menyatakan diri kita berharga. Kekayaan, status
terhormat, pakaian yang mahal dan bermerk dan lain-lain.
Jadi, kita tidaklah lagi mengeluh akan keberadaan hidup
kita karena akibat perbandingan dengan orang lain. Rasul paulus( Filifi 4:4)
meminta kita untuk “bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi
kukatakan bersukacitalah!” kita belajar bersukacita melihat hal-hal yang indah
dibalik penderitaan, mensyukuri apa yang kita alami walaupun tidak sesuai
dengan harapan semula, ternyata ada satu kelegaan mengalir dan menjalar ke hati
menyiapkan kita untuk menerima apa yang Allah sedang rencanakan untuk kita.
Kita tidak tahu berkat Tuhan itu akan datang, ketika
berkat yang kecil kita syukuri bagaimana kita diberikan tanggungjawab untuk mendapat
berkat yang lebih besar? Berpikir positif adalah selalu melihat kesempatan,
betapapun kecilnya, sebagai sarana untuk mengembangkan diri ke depan, menuju
harapan yang jauh disana.ditengah keputusasaan, kepedihan, kedukaan, ketakutan,
kekwatiran jangan pernah lupa bahwa
Tuhan ada ditengah kita ataupun di dalam kita.
Selamat mencoba
“Positif thinking”
Langganan:
Komentar (Atom)